16 Agustus 2008

Mengenal Ragam Bahasa Karangan Ilmiah

PENEGETAHUAN manusia tentang alam itu berbeda-beda, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Hal ini, disebabkan adanya perbedaan dalam cara memperolehnya. Ada yang melalui proses pengenalan sepintas atau alami (disebut pengetahuan); ada yang melalui proses pengenalan secara seksama dan menggunakan cara tertentu yang disebut metode ilmiah atau metode penelitian (inilah yang disebut ilmu). Secara etimologi, makna kedua kata itu (pengetahuan dan ilmu) adalah sama.
Pada dasarnya metode ilmiah menggunakan dua pendekatan, yaitu :
  1. Pendekatan rasional Pendekatan rasional berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan kajian data yang diperoleh dari berbagai rujukan (literatur).
  2. Pendekatan empiris. Pendekatan empiris berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan fakta yang diperoleh dari lapangan atau hasil percobaan (laboratorium).
Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu itu merupakan pengetahuan yang sistematis dan diperoleh melalui pendekatan rasional dan empiris.


Manusia sebagai makhluk budaya berusaha melestarikan ilmu yang diperolehnya. Tujuanya ialah khazanah ilmu yang sangat berharga itu dimanfaatkan tidak hanya oleh penemuannya atau sekelompok orang, tetapi dapat dimanfaatkan pula oleh umat manusia, baik manusia kini maupun yang akan datang. Hal ini sesuai dengan salah satu sifat ilmu yaitu universal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibuat dokumen ilmu yang antara lain lazim disebut karya tulis ilmiah (karangan ilmiah).


Jadi, pada hakekatnya karya tulis itu merupakan dokumen tentang segala temuan manusia yang diperoleh dengan metode ilmiah dan disajikan dengan bahasa khas serta ditulis menurut konvensi tertentu. Yang dimaksud dengan bahasa khas ilmiah yaitu bahasa yang ringkas (hemat), jelas, cermat, baku, lugas, denotatif, dan runtun.


Dalam kaitan upaya pemanfaatan ilmu oleh umat manusia secara universal tadi, maka perlu dilakukan penyebarluasan melalui alat komunikasi yang efektif dan efesien. Penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat perlu segera disebarluaskan. Di sinilah arti penting sebuah karya tulis ilmiah.


Adapun karangan ilmiah itu, memiliki beberapa tujuan, antara lain :
  1. memeberi penjelasan,
  2. memberi komentar atau penilaian,
  3. memberi saran,
  4. menyampaikan sanggahan,
  5. membuktikan hipotesa.

Pengertian karangan ilmiah

Karangan ilmiah ialah karya tulis yang memaparkan pendapat, gagasan, tanggapan atau hasil penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keilmuan.

Jenis karangan ilmiah banyak sekali, diantaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Kalaupun jenisnya berbeda-beda, tetapi keempat-empatnya bertolak dari laporan, kemudian diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanyalah dalam kekomplekskannya.


Ciri-ciri karangan ilmiah


Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, antara lain:

  1. Jelas. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
  2. Logis. Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.
  3. Lugas. Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
  4. Objektif. Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
  5. Seksama. Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya
  6. Sistematis. Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan
  7. Tuntas. Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.

Ragam ilmiah

Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis.

Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut ini.

  1. Baku. Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.
  2. Logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal. Contoh: “Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan.”Ide kalimat di atas tidak logis. Pilihan kata “masalah’, kurang tepat. Pengembangan dakwah mempunyai masalah kendala. Tidak logis apabila masalahnya kita tingkatkan. Kalimat di atas seharusnya “Pengembangan dakwah kita tingkatkan.”
  3. Kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Perhatikan contoh di bawah ini:Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata kebanyakan relatif, mungkin bisa 5, 6 atau 10 orang. Jadi, dalam tulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kita benahi menjadi Da’i di Gunung Kidul 5 orang lulusan perguruan tinggi, dan yang 3 orang lagi dari lulusan pesantren.
  4. Tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: “Jamban pesantren yang sudah rusak itu sedang diperbaiki.”Kalimat tersebut, mempunyai makna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban, atau mungkin juga pesantren.
  5. Denotatif yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.
  6. Runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.

Dalam karangan ilmiah, bahasa ragam merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan. Sesuai dengan sifat keilmuannya, bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia), logis, cermat dan sistematis. Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, diantaranya: jelas, logis, lugas, objektif, seksama, sistematis dan tuntas.

Daftar Pustaka:

  1. Dra. Ny. A Subantari R, Drs. Amas Suryadi. Drs. K. Zainal Muttaqin. “Bahasa Indonesia dan Penyusunan Karangan Ilmiah.” Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati, 1998.
  2. Drs. Sutedja Sumadipura, Dra. Harmoni Syam. “Mampu Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.” Bandung: 1996.
  3. Drs. M.E. Suhendar, M.Pd. “Pengajaran dan ujian Keterampilan Membaca dan Ketrampilan Menulis.”

Oleh: ARDA DINATA

Tidak ada komentar:

PROPOSAL PEMBANGUNAN

GEDUNG PUSAT DAKWAH DAN PENDIDIKAN ANAK



“SILATURRAHIM PECINTA ANAK-ANAK”

SPA YOGYAKARTA

I. NAMA KEGIATAN


PEMBANGUNAN GEDUNG PUSAT DAKWAH DAN PENDIDIKAN ANAK “SILATURRAHIM PECINTA ANAK-ANAK” (SPA) YOGYAKARTA.


II. DASAR PEMIKIRAN


“Dan hendaklah takut kepada Allah swt orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang meraka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, mereka hendaklah bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa’[4] : 9)

III. LATAR BELAKANG


Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahim Pecinta Anak-anak (SPA)Yogyakarta adalah sebuah lembaga dakwah dan pendidikan anak yang didirikan pada tanggal 13 November 1985. Sejak awal kelahirannya, lembaga ini berkonsentrasi terjun secara aktif di lapangan dakwah di kalangan anak-anak dan remaja. Selama ini SPA telah memiliki tanah dan gedung sendiri yang dipakai untuk kantor sekretariat. Namun, karena perkembangan dan kebutuhan dari sebuah lembaga, keberadaan kantor tersebut masih jauh dari harapan sebagai kantor sekretariat lembaga Islam dengan banyak divisi dan beragam kegiatan di dalamnya.
Sejak tahun 1990 SPA mengembangkan ladang garap pengajian anak-anak melalui jalur sekolah yaitu Program Tutorial Membaca Al-Quran (PTMAQ) yang merupakan pilot project program wajib mengaji di sekolah bagi murid kelas 3 SD sekecamatan Depok. Selanjutnya program tersebut berkembang tidak hanya untuk wilayah kecamatan Depok. Dalam perkembangannya, program tersebut sekarang ditangani oleh Lembaga Pendidikan Islam Sekolah Keluarga dan Instansi PrimaCendekia.
Selain itu, sebagai salah satu lembaga Islam, SPA Yogyakarta secara khusus membentuk sebuah satuan tugas yang disebut Badan Pengelola Harian (BPH) Laboratorium Dakwah dan Pendidikan Anak (LABDADIKA), yang mengemban amanah untuk melakukan usaha-usaha research and development (R/D Litbang). Tugas pokoknya adalah melakukan upaya eksplorasi secara terus menerus terhadap pelbagai alternatif metode dan media untuk kepentingan peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan di kalangan anak-anak. Alhamdulillah, upaya yang memutuhkan kreativitas yang tinggi ini ternyata berjalan dengan baik dan hasilnya telah dirasakan secara luas oleh berbagai kalangan di seluruh Indonesia.
Keberhasilan ini mendorong pengurus untuk lebih mengembangkan dan mengintensifkan kegiatan research and development di atas agar dapat memberikan sumbangan yang lebih luas bagi gerakan dakwah dan pendidikan Islam di tanah air.
Hasil-hasil kegiatan R/D selama ini disebarluaskan melalui kegiatan penataran dan pelatihan oleh bidang khusus di SPA yang disebut Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPP) Bina Insantama. Hampir setiap tahun LPP Bina Insantama SPA menyelenggarakan diklat khusus untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidikan baik di lembaga formal seperti TK/SD/SMP/SMU maupun lembaga pendidikan nonformal seperti PAA/TKA/TPA. Sampai sekarang, diklat ini telah diselenggarakan sampai angkatan XIX. Selain itu, tim Penatar dan Pelatih LABDADIKA SPA hampir tiap bulan harus berkeliling ke berbagai wilayah di tanah air untuk menatar dan melatih para aktivis dakwah dan pendidikan anak.
Selain melaksanakan tugas pokoknya untuk menyelenggarakan diklat, SPA juga mengadakan diklat-diklat lain yang dipandang strategis seperti Pelatihan Kader Organisasi, Training of Trainers, Pelatihan Quantum Learning & Quantum Teaching, Pelatihan Bercerita, Kuliah 100 jam (K-100), dan sebagainya.
Mulai tahun 2003, SPA mengembangkan sayapnya di bidang formal dengan merintis dan mendirikan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) dan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di bawah divisi Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Salsabila. Sampai sekarang, SPA telah memililiki 5 SDIT dan 4 TKIT di wilayah Yogyakarta, Klaten, dan Purworejo.
Untuk memenuhi perannya secara optimal, SPA juga membutuhkan peningkatan sarana dan prasarana pendukung sehingga diklat dan berbagai aktivitas pendidikan Islam dapat terselenggara secara lebih efektif.
Dengan mengingat latar belakang di atas, SPA akan terus mengembangkan diri agar mampu berfungsi secara efektif sebagai lembaga pusat unggulan (center of exellence) dalam pengkajian dan pengembangan kualitas dakwah dan pendidikan anak serta pengembangan dan optimalisasi potensi sumber daya manusia muslim yang mampu berperan sebagai inisiator, inspirator, dinamisator, dan inovator dalam rangka maraih kejayaan Islam (lii’la-i kalimatillah)

IV. PERMASALAHAN


Tuntutan umat Islam agar Yayasan SPA mengembangkan diri sebagai lembaga yang semakin profesional dan mampu memerankan diri sebagai center of exellence di bidang dakwah dan pendidikan anak, memaksa pengurus menyusun program yang bersifat strategis. Salah satu program tersebut adalah renovasi gedung SPA menjadi kantor berlantai 2, dengan beberapa ruangan antara lain ruang pelatihan, gedung TK Islam, studio rekaman, sanggar seni islam dll.
Dengan mempertimbangkan kenyataan di atas, perlu dilakukan langkah-langkah konkrit untuk menyempurnakan gedung SPA baik dari segi fisik maupun sarana dan prasarana pendukung yang diperlukan. Dalam hal inilah, perlu disusun anggaran biaya yang diperlukan untuk melakukan renovasi dan sekaligus disusun suatu kepanitian khusus untuk menjadi pelaksana renovasi gedung SPA tersebut.

V. TUJUAN


Kegiatan/proyek renovasi ini diadakan dengan tujuan :
a. Menyediakan fasilitas yang layak demi kelangsungan fungsi SPA
b. Melaksanakan fungsi inovator dan fasilitator bagi pengembangan aktivis dakwah dan pendidikan anak-anak yang berorientasi ke masa depan
c. Mengoptimalkan segenap potensi manusia dan sumber daya manusia muslim pelaku dakwah dan pendidikan anak.

VI. SUSUNAN PANITIA

Untuk melaksanakan rencana renovasi gedung SPA Yogyakarta diperlukan sebuah kepanitiaan. Susunan penitia terlampir.

VII. ANGGARAN BIAYA

Sumber dana untuk membiayai kegiatan ini diperoleh dari :
a. Kas Yayasan SPA
b. Infaq para pengurus Yayasan SPA
c. Infaq para aktivis SPA dan sebagian panitia pelaksana
d. Infaq para aktivis dakwah
e. Sumbangan para donatur yang tidak mengikat
f. Sponsor
g. Sumber-sumber lain yang halal

VIII. PENUTUP


Demikian proposal ini kami susun untuk dipergunakan seperlunya. Atas perhatian dan bantuan Bapak/Ibu/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Apabila dikemudian hari ditemukan kekeliruan, proposal ini akan segera disempurnakan.
Firman Allah :”………Bila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah ……”(QS.3:158)


BADAN PEMBINA YAYASAN SPA


DEWAN PEMBINA :


1. Ketua : Prof. Drs. H. Dochak Latif
2. Anggota :
Dr. H. Sarbiran
Prof. Dr. Wuryadi

DEWAN PENGAWAS DAN PEMERIKSA :


1. Ketua : Drs. Ady Adaliah, M.M
2. Sekretaris : Ir. Joko Prasojo

DEWAN PENYANTUN :


1. Ketua : Prof. Dr. Noeng Muhadjir
2. Wakil Ketua : dr. H. Chairil Anwar
3. Anggota :
dr. Zein Al Kaff
Dr. Rasimin
Drs. Ishack
Ny. Ulfah Hisyam
Ny. Hayatullah Hasani
Prof. Dr. Darmiyati Zuchdi
Ny. Husein Ahmad
Prof. Dr. Djemari Mardapi

PANITIA PEMBANGUNAN GEDUNG DAKWAH ISLAM
YAYASAN PUSAT DAKWAH & PENDIDIKAN
SPA YOGYAKARTA


Pembina Yayasan :

1. Ketua : Prof. Drs. H. Dochak Latif
2. Anggota :
Dr. H. Sarbiran
Prof. Dr. Wuryadi

Penasehat Proyek :

Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.
Dra. Hj. Latifah Iskandar
Drs. H. Sunardi Syahuri
dr. H. Probo Suseno, Sp.PD., S.Ger.
Ir. Legowo

Penanggungjawab Proyek :


Ketua Umum YPDP SPA : RUA. Zainal Fanani, Sm.Hk.

Panita Pelaksana :

1. Ketua Panitia : Ki Tomy Hendrawanto, SE

2. Wakil Ketua : Irianto, SH.
3. Wakil Ketua : Mutoha, S.Pd.
4. Sekretaris I : Setyoadi Purwanto, S.Pd. (Kak Adi Kitana)
5. Sekretaris II : Chairil Anwar ZM.
6. Bendahara I : Sudarwati, S.Pd.
7. Bendahara II : Susilo Surahman, S.Ag. M.Pd.

Sie Dana & Publikasi :

1. AR. Sugeng Riyadi, S.Pd.
2. Aris Kusdianto (Pahlawan Bertopeng)
3. BaskoroAdi Nugroho
4. Djamiat Chulick, S.Pd.
5. Dr. M. Nur Ichwan
6. Dra. Anis Farikhatin, M. Pd.
7. Drs. H. Jambari
8. Drs. Nanang Priyana
9. Endang Rohmawati, S. Ag.
10. Imron Rosjadi, SS.
11. Imron Rosyadi, S.Ag.
12. Ir. Joko Prasojo, M.Si
13. Katri Hari Sukarsih
14. Laqit Ridlo, S. H
15. M. Ahsin, S. Ag.
16. M. Arifudin
17. M. Rahmad, S.Sos.I
18. M. Zainurrosyid, SHI, MA.
19. Mahroji Khudori
20. Moqowim, M. Ag.
21. Muhsin Kalida, S.Ag., MA.
22. Muksin Anwar, S. Sos. I
23. Murtaqi, S.HI.
24. Nazhif Masykur, S.Fil.I.
25. NH. Bambang Bimo Suryono (Kak Bimo)
26. Nur Fajriyah
27. Puji Hartono, BBA. (Kang Puji)
28. Rohmah Buanawati
29. Sabrur Rahim, M.Ag.
30. Saiful Haq, S. Pd.
31. Saryo, S.Ag.
32. Sayid (Satria Baja Islam)
33. Setiawan Tiada Tara
34. Sugani,S. Pd.
35. Syahir Rofiudin,S. Fil. I.
36. Umi Faizah, S. Ag.
37. Wuntat Wawan Sembodo, S. Ag. (Kak Wuntat)
38. Yulianto Ibrahim, S.S

Sie Pembangunan :

Yudi Wahyudin, S.Ag.
Muhamad Thoha ”Seribu Bintang”
Iim Hilman
Danin Billah
Suryana Wijaya