Apabila mendengar kata pelatihan terutama pelatihan yang sukses maka gambaran kita selalu membayangakan ada tempat pelatihan yang representative, trainner yang professional dibidangnya, training kit yang lengkap, peserta banyak dan antusias, serta panitia penyelenggara yang berpengalaman, teruji oleh event dan waktu. Gambaran tadi tidak keliru dan begitulah apabila training dilakukan secara kelembagaan dan dalam skala besar.
Melalui tulisan ini saya ingin bercerita atau berbagi pengalaman mengikuti pelatiahan hidup, saya dibesarkan dari seorang bapak pegawai dan tidak punya usaha mandiri, ibu saya seorang ibu rumah tangga tulen tidak punya usaha mandiri kesibukannya sudah cukup padat mengurusi tujuh orang anak. Saya sewaktu masih sekolah kelas empat SD pernah tinggal di kota Gombong, di rumah dinas kontrakan dari kantor bapak bertugas letaknya dipinggir jalan Dewi Sartika yang ramai lalu lintasnya terutama pejalan kaki karena pada waktu itu mobil maupun sepeda motor masih sedikit. Terutama jika bulan Romadlon jalanana ramai banyak orang ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa, saya sangat ingat betul tidak ada pedagang tiban seperti di UGM ketika menjelang berbuka puasa yang ada hanya warung-warung permanent.
Saya tidak tahu atau lupa entah dari mana timbul inisiatif berjualan, dengan modal hasil tabungan uang saku sekolah saya belanja di toko yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari rumah menggunakan sepeda hasil tabungan saya pula. Setiap sore sepanjang Romadlon saya ambil kursi makan dijajar di pinggir jalan saya tata sedemikian rupa untuk memajang dagangan itu ada roti es, permen, kacang, bahkan saya ingat betul saya sudah membuat promosi dengan cara memberi hadiah dengan saya sisipkan gulungan kertas kecil yang sudah diisi macam hadiahnya. Saya menunggu sampai terdengar adzan dari masjid kemudian dagangan di simpan ke rumah. Begitu berjalan selama dua Romadlon di Gombong , karena setelah dua tahun bapak pindah tugas kami pun ikut pindah.
Setelah beranjak remaja sampai kuliah uang sekolah ataupun uang kuliah tetap ditanggung orang tua, tapi hobi tetap berjalan yaitu sering berjualan apa saja yang kiranya dapat menghasilkan uang. Pernah jualan keramik kasongan , batik, pernah di trotoar benteng venderberd pada FKY I dan entah apa lagi, sampai saking asyiknya saya sempat tidak lulus pada ujian negara dan target kuliah selesai on time menjadi hanya rencana yang tidak terealisir, inilah sejarah hidup yang tak dapat dihapus.
Akan tetapi saya mendapatkan banyak manfaat yang bisa dipetik dari pelajaran hidup tadi yaitu pertama kemandirian terutama disaat sulitnya mencari pekerjaan tentunya saya termasuk didalamnya yaitu berstatus sebagai pencari kerja tersebut, tetapi tidak merasa canggung untuk mandiri berwirausaha, dari pekerjaan yang dianggap halus sampai pekerjaan kasar saya lakoni dengan biasa tanpa harus malu berhadapan dengan orang, muka saya masih tegak menatap walaupun dihadapan siswa, mahasiswa saya sekalipun dsan teman – teman.
Kedua etos kerja tinggi, berwirausaha menjadikan orang punya etos kerja yang tinggi karena dia akan berpikir bagaimana usaha ini agar selalu berjalan dan sukses, bagaimana modal bisa kembali, bagaimana dagangan laku, bagaimana bagaimana bagaimana pertanyaan selalu muncul.
Ketiga Dekat Dengan Sang Pencipta, bagaimanapun orang berdagang dihadapkan dengan suatu ketidak pastian karena itu yang pasti maka yang ada adalah harap dan cemas, untuk itu yang bisa dilakukan adalah memohon , berdzikir, berdoa apalagi apabila dagangan belum ada yang laku dan sudah mau kena pinalti yang ada hanya permohonan, dzikir dan doa kepada Sang Penguasa Tunggal tak henti dilantunkan di hati dan di senandungkan di bibir sampai basah sungguih, bahkan hingga pipi ikutan basah oleh deraiuan air mata.
Tiga manfaat dulu yang saya sampaikan pada tulisan ini dan saya ingin sampaikan, dari pengalaman itu saya telah tularkan kepada anak-anak saya dengan harapan nantinya mereka mampu mandiri khususnya bisa belajar manghasilakan uang sendiri disela-sela aktivitas belajar dan sekolahnya dan tidak kaget ketika harus mandiri secara financial dan dalam kehidupan.
Kebetulan Dewi adik saya punya hobi membuat kerajianan tangan walau sebenarnya pekerjaan di kantornya sudah menyita waktu, tetapi ketika istirahat baik dirumah maupun di kantor dia selalu membuat apa saja seperti gantungan kunci, boneka, dompet dan pernik-pernik yang lainnya, saya melihat kok banyak sekali koleksinya mengapa tidak ? Galuh anak saya latih berwirausaha maka saya sarankan ikut menjual, dia ternyata mau, tidak malu dan kini kalau sekolah selalu membawa hasil kerajianan tantenya ditawar-tawakkan kepada teman-temannya. Sekarang dia mulai membuat rencana besuk kalau uang sudah terkumpul bau beli ini beli itu. Dia bisa bangga inilah hasil jerih payahku.
Inilah sedikit pengalaman hidup saya dalam menghantarkan amanah dari Sang Pencipta untuk mandiri khususnnya kemandiriasn finansial, tentunya pembaca punya tanggapan tentang pelatihan atau pembelajaran ini, setuju boleh tidak juga boleh, saran dan kritik saya siap terima. Mari kita saling berbagi pengalaman dalam rangka menghantarkan amanah kita sehingga menjadi Generasi Rabbani Mandiri, ayo ayo saya tunggu.
Yogyakarta, 16 April 2008
Tomy Hendrawanto
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Merebut Masa Depan
Masa depan sukses pasti menjadi impian setiap orang, berbagai cara diupayakan untuk mencapainya. Standard tentunya sudah ditentukan lebih a...

-
Masa depan sukses pasti menjadi impian setiap orang, berbagai cara diupayakan untuk mencapainya. Standard tentunya sudah ditentukan lebih a...
-
Rabu 15 Agustus 2007 pukul 20.00 di rumah bapak Muhyidin Ada rapat masjid dengan jumlah undangan 38 dan hadir 30, materi evaluasi renovasi m...
-
Layaknya sebuah peperangan, strategi sangatlah penting sehebat apapun tak akan banyak berguna, jika para serdadunya tak mampu menjalankan s...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar