04 Mei 2008

Teladan Sakinah

Sabtu, 3 Mei 2008 pukul 20.00 di rumah penduduk desa Kelor Banguntirto Turi Sleman Team Out Bond SPA yang sedang mengadakan trainning for trainner saat itu sedang eksploring, setalah satu jam berjalan dengan suasana cukup tegang ketika team inti mempertanyakan konsumsi makan malam banyak yang tak membawa bekal sesuai pengarahan sewaktu di kantor SPA, datanglah mobil putih silver yang didalamnya Ibu Anis, Pak Nanang dan putrinya Tyas yang disebutnya gadis limapuluh kilo. Keadiran mereka bertiga idak mennganngu acara bahkan melengkapi karena memang telah diplot sebagai pemateri dimalam itu.

Dengan saksama mereka mendengar banyak ungkapan peserta termasuk trainner, pada saat itu saya sempat terseret arus menjelaskan alasan penyampaian soal pada pos I dimana saya ditugaskan pada acara tracking sorenya. Maksud saya adalah menjelaskan kepada Ibu Anis tetapi ditangapi peserta, memang waktunya yang kuang pas, kemudia saya tidak lanjutkan menanggapi karena belum saatnya penjelasan atau materi itu disampaikan.

Sesuai jadwal kemudian Warsito seksi acara memberikan waktu kepada Ibu Anis, kemudian dengan santunnya beliau menyerahkan waktu dan tempat kepada suaminya Pak Nanang dengan panggilan mesra juragan. Tentunya untuk menyampaikan materi ibu Anis adalah pakarnya, begitu pula Pak Nanang. Hal ini bukan karena Ibu Anis tidak betanggungjawab atas tugasnya karena banyak sudah acara diisinya dengan baik tetapi merupakan penghorman seorang istri kepada sang suami, hal ini nampak ketika Pak Nanang meyampaikan materi Ibu Anis memposisikan sebagai pelengkap tak ada sedikitpun nampak kearoganan, kolaborasi yang bagus, sugguh bagus.

Dipertengahan materi semua hadirin sepakat rehat untuk makan, disinilah waktu saya gunakan untuk sampaikan keharmonisan mereka berdua, saya katakan inilah teladan sakinah yang bisa dilihat kalau pada tabloid rajut kasih kita bisa membaca dan pada malam ini kita bisa melihat bersama, berbahagilah Mbak Tyas mempunyai orang tua seperti Pak Nanang dan Ibu Anis. Saya katakan kepada mereka yang masih senang sendiri untuk bertanya bagaimana cara mencari istri seperti Ibu Anis. Langsung dijawab Ibu Anis sendiri secara beseloroh bahwa dia yang dulu mengejar, jadi tak perlu bertanya bahkan dilarangnya. Kalaupun ini benar kepada seluruh mereka yang masih senang menyendiri ini adalah contoh lagi wanita tak perlu malu untuk mendahului kalaupun mampu mendudukkan semuanya sesuai aturan tentunya agama. Kepada laki-laki tak perlu arogan karena budaya yang telah terbentuk sehingga sombong takabur dan mecehkan wanita yang mendahului, karena tidak sdikit laki-laki yang penakut tak puya nyali hanya bertopeng kesombongan padahal hanyalah cara mnenutup ketakberdayaanya.

Tanpa di skenario malam itu semua tidak saja mendapat materi outbond yang disampaikan Pak nanang tetapi juga materi nyata sebuah keteladan yang bisa diambil hikamahnya oleh peserta khususnya karena banyak yang masih suka dengan kesendiriannya. Sukses teman - teman maju terus pantang mundur, Allahu akbar.

Tidak ada komentar:

Merebut Masa Depan

Masa depan sukses pasti menjadi impian setiap orang, berbagai cara diupayakan untuk mencapainya. Standard tentunya sudah ditentukan lebih a...